Pendakian pertama : Gunung Merbabu

Mendaki gunung ya. Kegiatan yang tidak pernah sekalipun terlintas dipikiran untuk dilakukan. Bagi orang mageran dan nggak suka capek kayak aku, mendaki gunung adalah salah satu aktivitas yang sangat dihindari. Udah capek, keingetan, butuh biaya lumayan lagi, lengkap sudah alasan untuk tidak dilakukanya.

Tapi nggak tahu kenapa, ikut juga aku di pendakian ini. Berawal dari ajakan seorang teman.

“muncak yok, ke Merbabu, biar nggak gabut dikos terus, mumpung libur juga”

Waktu itu emang lagi libur kuliah. Setelah mikir-mikir cukup lama, ya okelah, toh aku nggak ada kegiatan juga selama liburan. Maka kami tentukan lah tanggal pendakian, bagi-bagi tugas buat bawa barang-barang, dan sesekali jogging supaya kuat waktu nanjak. Maklum lah, aku kan paling males kalau disuruh olahraga, kalau sampe waktu nanjak nggak kuat dan pingsan, malu banget dong, bisa jadi bahan ejekan sekelas ini.

H -1 pendakian, kami mulai nyewa alat-alat yang dibutuhkan untuk pendakian besok, mulai dari tenda, sleeping bag, sepatu tracking, dan alat lainya. Sorenya kami belanja makanan dan cemilan untuk dimakan digunung. Dan rencananya kami bakal berangkat dari kos jam 6 pagi karena butuh sekitar 2 jam dari Jogja ke pendakian Gunung Merbabu.

Paginya, seperti orang Indonesia pada umumnya, kami molor. Jam 6 masih pada tidur, belum makan, belum siap-siap. Haishh... ini terlalu Indonesia namanya. Akhirnya kamipun berangkat jam 8, dan sampai dipos registrasi jam 10 siang. Setelah registrasi dan briefing kamipun memulai pendakian dan itu jam 12 siang. Walaupun mataharinya terik tapi udara terasa sejuk, mungkin karena perjalanan menuju pos 1 ini masih berupa hutan dan tertutup pohon yang cukup rindang.

Dan baru sampai pos 1, napas udah ngos-ngosan, kaki udah capek aja. Ternyata jogging beberapa kali nggak terlalu ngaruh, tetap aja capek. Tapi nggak masalah, mungkin buat yang pertama naik gunung capek itu wajar, sangat wajar malah. Setelah capek-capek yang berkepanjangan, sampailah kami dipos 3. hari sudah mulai sore saat kami sampai, mungkin sekitar jam 4 atau 5. Entahlah, saking capeknya udah nggak peduli lagi jam berapa, yang ada dipikiran cuma kapan masang tenda terus istirahat.

Melihat rute dari pos 3 ke sabana 1 bikin ciut nyali, semacam membangkitkan rasa pesimis, yang sedari tadi sudah ditekan kini mecuat keluar dengan bebas. Siapa yang enggak pesimis dalam keadaan yang lelah, dihadapkan dengan tanjakan yang tinggi banget, jalurnya sulit dan berpasir, dan apesnya lagi, itu jalan yang bakal kami lewati kalau mau kepuncak. Tapi ya, pada akhirnya berhasil juga kami melewati tanjakan tersebut.

tanjakan menuju sabana 1


Malam ini kami habiskan di sabana 1 sambil ngopi dan ngobrol. Ternyata di sabana 1 ini view yang disuguhkan cukup membuat terpukau, hamparan kota magelang dengan segala kesibukanya, langit hitam berbintang yang menemani kami diatas sini, untuk sesaat kurasakan diriku sangat kecil, sangat-sangat kecil. Ternyata tuhan nggak main-main dalam menciptakan sesuatu, kami makhluk kecil bisa berjalan sejauh ini, bisa mendaki setinggi ini, bisa membangun kota yang sesibuk ini, sungguh luar biasa. Kita adalah makhluk kecil yang berani bertindak besar.

Paginya sekitar jam 3 aku bangun, karena memang rencana kami akan menuju puncak untuk menikmati sunrise. Nggak afdol kan kalau mendaki tanpa menikmati sunrisenya. Tapi diinginya malam seolah melarang kami untuk sekedar melangkah keluar tenda. Yah, akhirnya rencana menikmati sunrise dari puncak merbabu kami batalkan dan kembali tidur sampai sekitar pukul 5 pagi.
Tidak perlu sampai puncak ternyata untuk menikmati sunrise, karena dari sabana 1 ini kita juga disuguhi sunrise yang tak kalah indah. Beberapa pendaki juga memilih menikmati sunrise dari sabana 1. Ada yang mulai memasang tripod, ada yang sambil menyeruput kopi, ada pula yang sekedar duduk sambil menunggu sapaan matahari. Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul, pertanda bahwa hari baru saja dimulai. Kehangatanya memenuhi udara pagi itu. Sangat nyaman.

sunrise dari sabana 1


Ternyata puncak masih jauuh. Kami harus melewati sabana 2, dan jalan kepuncak yang menanjak tinggi sekali, sungguh melelahkan. Apa jadinya kalau tadi pagi kami memutuskan untuk pergi kepuncak. Tapi semua lelah yang kami rasakan terbayar lunas oleh indahnya puncak kentengsongo. Gumpalan awan yang terlihat empuk, dan jejeran gunung menghiasi mata kami saat itu. Melihat bunga edelweis yang abadi kecantikanya. Haah.. akhirnya, setelah perjalanan panjang nan melelahkan, sampai juga kami dipuncak gunung merbabu ini.


bunga edelweis
puncak kentengsongo


Puas kami menikmati puncak merbabu, kamipun kembali ketenda dan berberes untuk turun. Selesai sudah pendakian kami di Gunung Merbabu ini. Dan hari itupun kami tutup dengan mengistirahatkan tubuh yang lelah dikamar kos masing-masing.

Tak kusangka pendakian akan semenyenangkan ini. Meninggalkan banyak kenangan dan pertanyaan.
“kapan muncak lagi?”.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.